Ada satu hal yang tidak pernah berubah dari Bandung: dunia otomotifnya, khususnya budaya aircooled VW dan Porsche, serta arsitekturnya yang khas. Dan dari dunia otomotif itu, ada satu filosofi yang juga tak lekang oleh waktu: perjalanan selalu lebih penting daripada tujuan. Mungkin sub-judul dari hasil modifikasi potongan lirik lagu “The Streets Where We Belong” cukup berarti bagi kita yang lahir dan besar di Bandung era 80-90an, kalimat itu bukan sekadar jargon komunitas, melainkan cara kota ini dulu benar-benar bernapas, dan kebetulan, kawasan yang jadi panggung PASSIONATE MILES RIDE ini adalah kawasan yang sama tempat masa kecil itu berlangsung.
Tepat di seberang Blue Doors disaat kita masih bermain hingga sore hari bersepeda, berdiri Asia Afrika Plasa, salah satu pusat pertokoan modern pertama di Bandung, yang di lantai atasnya terdapat tempat game arcade atau yang biasa disebut ding-dong dan arena disco skate legendaris bernama NASA, tempat anak muda Bandung era itu ngabuburit sambil meluncur di atas roda diiringi musik disko. Sedikit kita berjalan kaki beberapa langkah ke jalan ABC, yang waktu itu jadi tujuan utama warga Bandung berburu barang elektronik, mulai dari radio, tape compo, televisi berwarna yang jadi kebanggaan ruang tamu, hingga arloji. Sedikit lebih jauh ke arah Cikapundung, berjejer jongko-jongko buku tua yang menjual apa saja: novel, komik, majalah luar negeri bekas, buku pelajaran turun-temurun, hingga stensilan seperti Enny Arrow dan Nick Carter yang juga mudah didapat di sana dengan hanya mengucap “Nu Biasa Kang!”
Dan di sepanjang Jl. Dewi Sartika, para pedagang membentangkan lapak kaset dan piringan hitam bekas di atas terpal atau gerobak dorong, berdempetan dengan pedagang lainnya, sebuah rute yang kemudian menyambung ke Banceuy, sentra onderdil mobil legendaris yang sudah berdenyut sejak era 1950-an, tempat mekanik-mekanik jalanan mencari komponen untuk menghidupkan kembali mesin-mesin tua. Menemani orang tua, dulu kita punya kebiasaan yang sama: setiap kali mampir ke Banceuy untuk berburu onderdil, mereka selalu menyempatkan diri mampir ke Toko Kopi Aroma untuk membawa pulang sekantong kopi legendaris itu. Sebelum ke Banceuy, biasanya kita lebih dulu menurunkan Ibu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Baru, pasar tertua di Bandung yang sudah berdiri sejak 1884, atau kadang ke Gang Tamim dan pusat belanja Kings di Jalan Kepatihan, yang juga jadi rujukan warga Bandung untuk urusan kain dan tekstil.
Itu tidak termasuk berapa kali kita mengelilingin jalan Alkateri, hingga akhirnya kita menuju Bandung Utara mencari suasana yang lebih dingin di Lembang untuk nongkrong sambil makan jagung dan ketan bakar. ~YTTA
Satu kawasan, satu tarikan napas, kaset, buku, elektronik, tekstil, dan onderdil mobil semuanya berjalan kaki jaraknya, dan semuanya adalah bagian dari cara Bandung dulu berdagang sekaligus bersosialisasi. Ingatan itulah yang tiba-tiba terasa hidup kembali pada sore itu, terbayang dahulu menaiki angkutan umum Bemo di daerah Alun-alun dan Asia-Afrika, ketika filosofi itu berubah wujud menjadi sebuah barisan flat-four boxer berusia 70 tahun yang diam terparkir di antara pejalan kaki, cangkir kopi, dan bangunan-bangunan tua yang menyimpan cerita jauh lebih panjang dari sekadar deretan bata dan kanopi beton.
Salah satu mobil itu adalah Porsche 356 A Coupé tahun 1956 milik Michael Lesmana, dan kehadirannya di jantung acara PASSIONATE MILES RIDE bukan kebetulan. Ia adalah pemilik acara ini sekaligus salah satu figur yang paling dikenal di komunitas Porsche klasik Bandung.
The Rebellious Purist
Bagi yang mengikuti dunia VW dan Porsche klasik, nama Michael Lesmana bukan nama asing. 356 A Coupé miliknya sempat diangkat sebagai kisah utama dalam Christophorus, majalah resmi Porsche, dengan judul “Rebellious Purist”, sebuah julukan yang pas untuk pria kelahiran daerah perkebunan teh dan gunung berapi Jawa Barat ini. Bukan tanpa alasan: unit 356 A miliknya adalah model 1956 yang tergolong sangat langka karena memiliki V-shaped sunroof, sebuah detail yang jarang ditemui pada unit sejamannya.
356 A with V-shaped Sunroof
Yang membuatnya lebih menarik lagi bukan kondisinya yang mengkilap, melainkan justru sebaliknya, lapisan debu, stiker-stiker perjalanan, dan baret-baret yang terkumpul selama enam dekade lebih menjadi bagian dari karakter mobil ini. “Disiksa” merupakan kata yang tepat untuk mencaritakan sebuah mobil klasik Porsche 356 yang buat sebagian orang 356 hanya menjadi sebuah mobil pajangan. Namun untuk menikmati sebuah kendaraan ya tentu saja dengan mengendarainya, itu merupakan suatu kehormatan bagi mobil itu sendiri. Bagi Markum panggilan akrab Michael Lesmana, filosofinya sederhana: mobil klasik ada untuk dijalani, bukan sekadar dipajang di garasi ber-AC.
Ia pernah membawa 356-nya menempuh 558 kilometer dari Bandung ke Yogyakarta melintasi hutan, rawa bakau, dan kaki gunung berapi aktif, sebuah “trial by fire” yang justru mempertegas identitas mobil ini sebagai kendaraan yang hidup, bukan artefak diam. “Disiksa” merupakan kata yang tepat untuk mencaritakan sebuah mobil klasik Porsche, manum untuk menikmati sebuah kendaraan ya tuntu saja denganan mengendarainya itu merupakan suatu kehormatan bagi mobil itu sendiri. Terlebih lagi Porsche 356 nya itu pernah ia “siksa” lebih dari 1000 kilometer, melintasi pantura, menjelajahi Taman Nasional Baluran hingga menyebrang ke pulau Dewata, Bali. Dan jarak itu kalikan dua, karena pulangnya pun ia kendarai. Sungguh kenikmatan yang tiada tara.
*photo @mlesmana collections
Di luar dunia otomotif, Lesmana juga dikenal sebagai pemilik bengkel spesialis dan pernah memiliki toko rekaman vinyl Keep Keep(RIP), yang pernah berdiri sejak 2015 dan berkembang menjadi titik temu bagi para pencinta budaya alternatif Bandung, dari kolektor mobil, musisi, hingga sekadar orang yang lewat dan penasaran. Semangat itulah yang ia bawa ke Jl. Alkateri: bahwa kendaraan, musik, dan ruang publik pada dasarnya berbicara bahasa yang sama, mempertemukan orang.
Why Streets not Circuit?
Pertanyaan yang wajar muncul: kenapa memilih trotoar tua di Alkateri, bukan sirkuit atau parkiran mal? Rilis resmi acara ini menjelaskannya dengan gamblang:
“Cities were never meant to be experienced only in motion… PASSIONATE MILES RIDE is an invitation to rediscover that purpose, to reclaim the street as a social space where automotive culture brings people together.”
Pilihan atas Jl. Alkateri sendiri jauh dari acak. Sejak awal perkembangan Kota Bandung, jalan ini merupakan bagian dari kawasan niaga bersejarah kota, menghubungkan Alun-Alun, Pasar Baru, Jalan Asia Afrika, dan Jalan ABC.
Seperti disebutkan dalam narasi resmi acara:
“More than a route through the city, Alkateri has long been a place where trade, movement, and everyday life intersected… Its identity was never defined by monuments or grand civic buildings, but by the people who gave the street its rhythm.”
Dengan kata lain, menaruh sebuah Porsche 356 tua di jalan ini bukan sekadar pertunjukan estetika, melainkan pengembalian fungsi jalan itu sendiri ke akarnya: tempat pertemuan, bukan sekadar koridor lalu lintas.
A Living Room, Out on the Street
Acara yang digagas Michael Lesmana ini berkolaborasi dengan dua nama lokal yang punya akar kuat di kawasan tersebut: Blue Doors Coffee dan LAB (Local Architecture Bureau).
Blue Doors Coffee sendiri bukan pendatang baru di Alkateri. Kedai kopi dengan pintu biru ikoniknya ini telah beroperasi sejak 2014 di Jl. Alkateri No. 2, Braga, hanya beberapa langkah dari Alun-Alun dan Asia Afrika. Karakter rustic dan suasana vintage-nya membuat kedai ini dikenal luas sebagai salah satu hidden gem di jantung kota lama Bandung, dengan area indoor yang intim dan area outdoor dua lantai yang selama ini sudah terbiasa “meluber” ke jalan, persis dinamika yang ingin dihidupkan kembali oleh Passionate Miles Ride. Seperti disebutkan dalam rilis resminya:
“…into a relaxed public living room where cars, architecture, coffee and conversation exist in harmony.”
Sementara itu LAB, biro arsitektur yang dipimpin oleh Tan Tik Lam dan Gemawang Swaribathoro, memiliki studio yang berlokasi tepat di sebelah Blue Doors Coffee. Dalam momentum Passionate Miles Ride, LAB membuka kesempatan terbatas berupa open house studio, memperlihatkan karya dan ruang kerja mereka kepada pengunjung yang datang. Kanopi beton ekspos milik bangunan itu bahkan diubah menjadi area nongkrong yang menghadap langsung ke jalan, memberi pengunjung sudut pandang lain untuk menikmati keramaian di bawah sambil ngopi, sekaligus mempertegas bagaimana arsitektur, manusia, dan kota bisa berbicara dalam satu ruang yang sama.
12 Cars, One Conversation
Kurasi acara ini sengaja dijaga tetap intim: sekitar dua belas unit, campuran Porsche dan Land Rover, masing-masing dipilih bukan karena kelangkaan harga, melainkan karakter dan cerita di baliknya. Dan di antara jajaran itu, 356 A Coupé 1956 milik Michael Lesmana berdiri sebagai representasi paling jujur dari semangat acara bukan mobil pajangan yang datang untuk difoto, melainkan kendaraan yang benar-benar dipakai, dijalani, dan penuh bekas jalan yang nyata.
The Porsches
Acara ini pun tidak eksklusif untuk pemilik mobil klasik. Siapa pun yang datang dengan motor, sepeda, atau bahkan berjalan kaki, tetap diundang untuk mampir, memesan kopi, dan menjadi bagian dari sore itu, sejalan dengan semangat rilis resminya bahwa “reclaiming the street is ultimately about reclaiming the connections that have always given it meaning.”
The Landys
Last But Not Least
Bagi komunitas aircooled, kisah 356 Michael Lesmana di Alkateri terasa seperti pengingat yang sederhana namun penting: mobil-mobil tua ini paling hidup bukan di atas trailer pameran, melainkan di jalanan yang sama seperti dulu mereka dibangun untuk dilalui. PASSIONATE MILES RIDE, lewat kolaborasi dengan Blue Doors Coffee dan LAB, tidak sedang menciptakan sesuatu yang baru di Alkateri, ia hanya mengembalikan jalan ini pada fungsi lamanya: tempat orang berhenti sejenak, mengobrol, dan saling melihat satu sama lain.
Dan mungkin, itulah yang paling relevan untuk dicatat dari sore itu, bahwa sebuah Porsche 356 yang penuh debu dan stiker perjalanan bisa menjadi jembatan yang sama efektifnya dengan secangkir kopi, untuk mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal.
Saya menyukai VW sejak kecil, hal itu dipengaruhi oleh ayah saya. Mulai menulis dan fotografi dimulai pada akhir 90-an.
Awalnya senang memfoto VW dan posting di halaman pribadi saya. Hingga akhirnya Paul Cave mengajak saya untuk menjadi kontributor tentang VW & Porsche di Asia khususnya di Indonesia sejak tahun 2010 untuk majalah "Aircooled Classic VW & Porsche" (AUS), juga majalah VWKita (INA), Aircooledway (INA) hingga berkontribusi untuk Airmighty (NED).
Dengan pengalaman tersebut kemudian saya mulai mendirikan media online sendiri di Aircooled Syndicate.
1 comment
Bandung memang beda!