Air Cooled Syndicate
Events

Blast From The Past: Menyambut Kembali Gemerlap Masa Lalu di Jogjakarta Volkswagen Festival 2025

Awal Hari yang Penuh Antusiasme

Suasana di Plasa GIK pagi itu nggak cuma dipenuhi dentuman knalpot dan aroma bensin. Tapi juga tawa renyah dan obrolan hangat antar legenda VW tanah air. Para sesepuh komunitas berdiri berjejer santai, tangan saling menjabat, senyum mengembang seperti sahabat lama yang udah puluhan tahun nggak ketemu. Ketua Umum Volkswagen Indonesia Association (VIA) Komjen. Pol. (Purn.) Nanan Soekarna pun tampak bersemangat untuk menikmati kegiatan dipagi hari ini. Juga hadir dari kalangan kolektor lawas hingga pegiat komunitas muda – semuanya lebur dalam satu semangat: VW bukan cuma kendaraan, tapi pengikat rasa.

“Ini bukan cuma soal otomotif,” tegas Pak Nanan, dalam sambutannya. “Yang kita bawa di JVWF ini adalah semangat gotong royong, kreativitas, dan keberlanjutan. Mobil tua itu bukan barang rongsok. Di tangan komunitas, dia bisa hidupin ekonomi lokal, dorong UMKM, dan jadi media edukasi soal nilai.”

Di balik karat dan plat tua, tersimpan cerita tentang perjuangan, kolaborasi, dan semangat terus hidup. Itulah yang bikin JVWF lebih dari sekadar show-off mobil klasik ini adalah gerakan komunitas yang jalan bersama, tumbuh bersama.

Di sudut lain, kamera-kamera sibuk membidik. Salah satunya mengarah ke seorang figur yang tidak lepas dari kegiatan JVWF ini, yaitu Rahardyan Nugroho Ady, ia merupakan Ketua Umum Volkswageh Club Yogyakarta. Sambil berdiri di depan VW klasik hitam legendaris, ia bicara soal makna JVWF yang lebih dari sekadar display mobil.

“Yang kita jaga bukan cuma pelat dan mesin, tapi kenangan. Cerita di balik mobil ini lebih mahal dari part NOS,” ~ Rahardyan Nugroho Ady.

Begitu kira-kira intinya. Semua yang hadir, entah sebagai peserta, panitia, atau penonton, tahu: di sini bukan cuma soal gaya, tapi juga soal hati.

Dan inilah keunikan JVWF: antara formalisasi acara dan kehangatan akar komunitas, semuanya berjalan beriringan. Tanpa sekat, tanpa jarak. Semua saling menghargai, saling menguatkan. Dari generasi tua yang pernah bangun Beetle dari nol, sampai anak muda yang baru kenal Split Bus via Instagram – semua duduk bareng di atas kursi lipat yang sama atau selasar GIK UGM untuk sharing kopi dan cerita. Satu hal yang jelas, JVWF bukan hanya festival—ini rumah kedua bagi siapa pun yang hidup di bawah bendera VW.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Language »