Masa lalu? Di Jogjakarta Volkswagen Festival (JVWF) 2025, masa lalu bukan cuma dikenang, ia dihidupkan kembali dengan penuh cinta. Di tengah semilir angin Jogja yang akrab, festival dua tahunan ini kembali memanggil keluarga besar VW dari seluruh penjuru negeri dan luar negeri untuk berkumpul, bersua, dan berbagi cerita. Dengan tema “Blast From The Past”, JVWF tahun ini bukan sekadar ajang pamer mobil klasik—ini adalah lorong waktu.
Deretan VW klasik hingga model terbaru berjajar elegan, masing-masing membawa karakter, cerita, dan jiwa. Musik old-school berdentum dari sudut lapak, sementara pengunjung berlalu-lalang dalam balutan fashion retro, menambah vibe vintage yang benar-benar hidup.
Tapi yang paling terasa? Rasa kebersamaannya. Dari saling tos dan berpelukan di bawah tenda, berbagi part langka, hingga nostalgia bareng sambil ngopi di samping VW yang hadir di JVWF. JVWF 2025 bukan cuma selebrasi mobil tua—ini selebrasi kultur, sejarah, dan solidaritas komunitas. Dan di Jogja, semuanya itu terasa pas: hangat, dekat, dan tak terlupakan.
Pada kesempatan kali ini, saya hadir bersama Ian Antara, rekan yang belakangan mulai menaruh minat pada dunia fotografi otomotif, khususnya VW klasik. Ia juga merupakan fotografer yang kerap mendampingi saya dalam berbagai proyek lainnya. Selain itu, saya juga ditemani oleh anak bungsu saya, yang kini mulai menunjukkan ketertarikan pada dunia VW Touring dan kesenangan menjelajah dari satu tempat ke tempat lain, langsung dari rumah. Setelah kemarin konvoi bersama ROMLI.
The Timeline of JVWF
Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu titik kecil yang sarat makna. Jogjakarta Volkswagen Festival (JVWF) bukan sekadar acara, tapi pergerakan — sebuah perayaan budaya, persaudaraan, dan dedikasi terhadap warisan mesin klasik dari Wolfsburg. Dari edisi perdana yang digelar di penghujung 2013, hingga berbagai fase transformasi yang membawanya ke level internasional, JVWF tumbuh menjadi lebih dari sekadar festival, ia menjelma menjadi rumah bagi para pecinta VW dari seluruh penjuru negeri dan luar negeri. Dan inilah kisah perjalanannya, dari Jogja untuk dunia.
JVWF 2013: Thousand Colors, Get Yours!
JVWF pertama kali digelar pada 27–29 Desember 2013, mengambil tempat di Jogja Expo Center (JEC). Inilah tonggak sejarah lahirnya festival otomotif bertaraf internasional yang digagas oleh VW Club Yogyakarta. Lebih dari 400 unit VW hadir dari berbagai penjuru, menjadikan event ini langsung mencuri perhatian. Acara dibuka secara resmi oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu, Roy Suryo.
Mengusung slogan “Thousand Colors, Get Yours!!“, JVWF 2013 jadi ajang pembuktian bahwa semangat komunitas VW Indonesia tak bisa dianggap remeh. Bintang tamu spesial seperti Bob Van Heyst dari BBT 4 VW Belgia turut meramaikan acara. Tidak hanya klub, banyak privatir datang dengan mobil-mobil personal yang penuh karakter. Di luar area pameran, ada Kafe VW, kesenian tradisional, lapak-lapak onderdil dan merchandise. Sebagai puncak, Lucky Draw dengan hadiah utama VW Brazilian Highroof hasil garapan bengkel Yumos dari Semarang menjadi penutup manis.
Tahun ini, JVWF tampil lebih interaktif dengan aktivitas seperti Talkshow, Car Limbo, kompetisi Food Truck, Coaching Clinic, hingga Pameran Diecast. Salah satu highlight-nya: VW Splitbus garapan Yumos sepanjang 7,25 meter, memecahkan Rekor MURI sebagai VW terpanjang di dunia. Klub-klub dari Malaysia, Brunei, Thailand, Singapura, dan Filipina berkumpul untuk meresmikan VW ASEAN, menjadikannya organisasi VW terbesar secara regional. Lucky Draw kali ini? Sebuah VW Kombi Campervan Westfalia, mimpi setiap pecinta touring.
JVWF 2017: From Jogja to The World
JVWF 2017 hadir dengan tema “From Jogja to The World“, digelar pada 17-19 November dan dibuka oleh Paku Alam X. Kali ini tamu-tamunya semakin internasional: Ron Flemming, Shin Watanabe, dan Viva Skag Vegas. Dari dalam negeri, sosok seperti Bingky Irawan dan Rifat Sungkar turut hadir. Bahkan duo Filosofi Kopi, Chicco Jerikho dan Rio Dewanto, juga meramaikan panggung.
Program makin padat: Talkshow, Show & Shine Competition, kontes fotografi, food truck zone, hingga cycling session dan live music. JVWF 2017 juga jadi tempat reuni karena tokoh-tokoh dari edisi sebelumnya kembali hadir, termasuk Bob Van Heyst dan tim Speedhunters. Tahun ini, satu unit VW Beetle bergaya California Look dipilih sebagai Grand Prize Lucky Draw, mewakili gaya santai tapi penuh karakter yang jadi DNA acara ini.
JVWF 2019: Soul of Hero
Di edisi keempat, JVWF 2019 membawa tema “Soul of The Hero“, digelar pada 9–10 November 2019 di JEC. Kali ini dua klub mancanegara — Flat-4 dari Jepang dan tim VW Belgia, hadir membawa karya kebanggaan mereka: sebuah VW Beetle Chopped Top 1952 dan VW Bus Deluxe. Tak hanya itu, Porsche RWB Indonesia (hasil tangan Akira Nakai) juga memanaskan suasana dengan kehadiran mereka.
Jogjakarta Volkswagen Festival atau yang juga dikenal sebagai JVWF adalah sebuah agenda otomotif rutin dua tahunan yang diselenggarakan oleh Volkswagen Club Yogyakarta (VCY), yang berskala internasional dan melibatkan partisipan dari dalam maupun luar negeri.
Pada tahun 2022 ini, JVWF kembali menyelenggarakan kegiatan ini. Namun ada yang berbeda dengan gelaran JVWF sebelumnya. Acara yang biasa digelar indoor di JEC. Tahun 2022 ini VCY menggelar JVWF di plataran Candi Prambanan.
Dari sisi musik, panggung diisi oleh Didi Kempot, Daun Sirih, The Old Fellas, hingga The Lonely Hearts Club Band. Aktivitas tetap padat: pameran, carmeet, Show & Shine, drag race, kontes diecast, dan flash mob. Salah satu highlight unik? VW Kombi dengan livery Herbie dan special display Porsche yang membuat pengunjung tak berhenti berfoto. Lucky Draw tahun ini menghadirkan sebuah VW Super Beetle 1303 German Look tahun 1974 — simbol dari kombinasi klasik dan agresif yang sangat khas era itu.
JVWF 2022: Long Time No See
“Long Time No See“, “Lama Tidak Berjumpa” atau dalam bahasa jawanya “Suwe Ora Ketemu”, merupakan kalimat yang tepat untuk event Jogjakarta Volkswagen Festival kali ini. Karena setelah hampir 3 tahun kita diserang oleh Pandemik virus C-19, akhirnya Jogjakarta Volkswagen Festival kembali diselenggarakan pada 16-17 Juli 2022 di pelataran Candi Prambanan, Sleman, DIY Yogyakarta, INDONESIA.
Pada tahun 2022 ini, JVWF kembali menyelenggarakan kegiatan ini. Namun ada yang berbeda dengan gelaran JVWF sebelumnya. Acara yang biasa digelar indoor di JEC. Tahun 2022 ini VCY menggelar JVWF di plataran Candi Prambanan. Konsepnya menyesuaikan dengan kondisi pada saat pandemik.
Pada tahun 2022 ini, JVWF kembali menyelenggarakan kegiatan ini. Namun ada yang berbeda dengan gelaran JVWF sebelumnya. Acara yang biasa digelar indoor di JEC. Tahun 2022 ini VCY menggelar JVWF di plataran Candi Prambanan.
Jajaran aktivitas tahun ini hadir makin beragam dan padat, menciptakan atmosfer yang benar-benar hidup dari pagi hingga malam. Mulai dari Exhibition, Car Meet, hingga deretan Lapak Jualan yang menawarkan segalanya dari onderdil langka sampai apparel komunitas. Sementara itu, berbagai kompetisi menjadi magnet utama bagi peserta dan pengunjung, seperti Show & Shine, Diecast Battle, Kontes Fotografi, Car Limbo & Slam, hingga atraksi penuh adrenalin.
Tak hanya itu, JVWF tahun ini juga menyuguhkan sisi artistik yang kuat, dari Live Podcast, Graffiti Jam, hingga Dance Performance bertema Ramayana yang menghadirkan kolaborasi seni tradisi dan kultur otomotif dalam satu frame. Parade karnaval, pertunjukan budaya, dan Live Music turut menghidupkan suasana, membuktikan bahwa JVWF bukan sekadar event otomotif — ini adalah perayaan gaya hidup.
Sebagai penutup, Lucky Draw jadi momen yang paling ditunggu. Tahun ini, satu unit VW Safari dipilih sebagai hadiah utama, kendaraan yang tak hanya ikonik, tapi juga jadi simbol petualangan dan kebebasan ala VW.
The 2025 JVWF: Blast From The Past
Parade Bendera Klub VW Indonesia dan ASEAN
Sabtu pagi, 12 Juli 2025. Matahari baru saja naik, tapi semangat sudah membara di halaman UGM. Barisan VW Safari berjejer rapi, mesin bergetar pelan menunggu aba-aba. Itulah momen pembuka dari Jogjakarta Volkswagen Festival (JVWF) ke-6, sebuah ajang dua tahunan yang jadi magnet pecinta VW klasik dari seluruh penjuru.
Parade dimulai dengan gagah – rombongan VW dari berbagai klub membawa bendera kebanggaan masing-masing, mewarnai jalanan Jogja dengan nuansa nostalgia dan kebersamaan yang khas. Jalur yang ditempuh mengelilingi kampus UGM dan berakhir di Plasa GIK UGM, tempat di mana para peserta disambut langsung oleh Ketua Umum VW Indonesia Association (VIA), Komjen. Pol. (Purn.) Nanan Soekarna.
Tahun ini terasa lebih spesial, karena tidak hanya klub-klub dari berbagai provinsi di Indonesia yang hadir, tetapi juga sahabat-sahabat sekomunitas dari Malaysia, Singapura, Jepang, Australia, hingga Jerman. Semua datang dengan satu semangat: merayakan warisan otomotif klasik yang tak pernah lekang oleh waktu.
Pengawalan Bregada Prajurit Keraton Jogyakarta
Derap langkah Bregada Prajurit membelah pagi Jogja dengan irama genderang yang mantap. Seragam merah menyala, topi tinggi khas keraton, dan wajah serius nan gagah menyambut deretan bendera klub VW dari seluruh penjuru. Dari Sabang sampai Merauke, dari Johor ke Hokkaido, semua bersatu dalam satu barisan parade, menyusuri area kampus UGM dengan semangat persaudaraan yang kental. Di belakang barisan prajurit, para volunteer dan komunitas VW mengenakan kaos ungu, membawa tinggi bendera-bendera kebanggaan mereka. Logo-logo klub VW berkibar dengan angkuh, mewakili kisah panjang dan kecintaan mendalam terhadap VW klasik yang diwariskan lintas generasi.
Dan ketika parade akhirnya mencapai Plasa GIK UGM, suasana langsung berubah magis. Di tengah riuh tepuk tangan dan jepretan kamera, mobil-mobil VW klasik yang sudah menunggu menjadi latar sempurna bagi pertemuan akbar ini. Semuanya serasa kembali ke masa lalu, tapi dengan energi baru. Blast From The Past? Lebih dari sekadar tema, itu jadi nyata di sini.
Awal Hari yang Penuh Antusiasme
Suasana di Plasa GIK pagi itu nggak cuma dipenuhi dentuman knalpot dan aroma bensin. Tapi juga tawa renyah dan obrolan hangat antar legenda VW tanah air. Para sesepuh komunitas berdiri berjejer santai, tangan saling menjabat, senyum mengembang seperti sahabat lama yang udah puluhan tahun nggak ketemu. Ketua Umum Volkswagen Indonesia Association (VIA) Komjen. Pol. (Purn.) Nanan Soekarna pun tampak bersemangat untuk menikmati kegiatan dipagi hari ini. Juga hadir dari kalangan kolektor lawas hingga pegiat komunitas muda – semuanya lebur dalam satu semangat: VW bukan cuma kendaraan, tapi pengikat rasa.
“Ini bukan cuma soal otomotif,” tegas Pak Nanan, dalam sambutannya. “Yang kita bawa di JVWF ini adalah semangat gotong royong, kreativitas, dan keberlanjutan. Mobil tua itu bukan barang rongsok. Di tangan komunitas, dia bisa hidupin ekonomi lokal, dorong UMKM, dan jadi media edukasi soal nilai.”
Di balik karat dan plat tua, tersimpan cerita tentang perjuangan, kolaborasi, dan semangat terus hidup. Itulah yang bikin JVWF lebih dari sekadar show-off mobil klasik ini adalah gerakan komunitas yang jalan bersama, tumbuh bersama.
Di sudut lain, kamera-kamera sibuk membidik. Salah satunya mengarah ke seorang figur yang tidak lepas dari kegiatan JVWF ini, yaitu Rahardyan Nugroho Ady, ia merupakan Ketua Umum Volkswageh Club Yogyakarta. Sambil berdiri di depan VW klasik hitam legendaris, ia bicara soal makna JVWF yang lebih dari sekadar display mobil.
“Yang kita jaga bukan cuma pelat dan mesin, tapi kenangan. Cerita di balik mobil ini lebih mahal dari part NOS,” ~ Rahardyan Nugroho Ady.
Begitu kira-kira intinya. Semua yang hadir, entah sebagai peserta, panitia, atau penonton, tahu: di sini bukan cuma soal gaya, tapi juga soal hati.
Dan inilah keunikan JVWF: antara formalisasi acara dan kehangatan akar komunitas, semuanya berjalan beriringan. Tanpa sekat, tanpa jarak. Semua saling menghargai, saling menguatkan. Dari generasi tua yang pernah bangun Beetle dari nol, sampai anak muda yang baru kenal Split Bus via Instagram – semua duduk bareng di atas kursi lipat yang sama atau selasar GIK UGM untuk sharing kopi dan cerita. Satu hal yang jelas, JVWF bukan hanya festival—ini rumah kedua bagi siapa pun yang hidup di bawah bendera VW.
Explore the Venue
Begitu kita memasuki venue, pemandangan langsung terbagi dua: di sisi kiri berdiri sebuah pendopo megah yang akan menjadi pusat kegiatan seremonial pembukaan Java VW Festival (JVWF) pada sore hari nanti. Sementara itu, di sisi kanan, perhatian langsung tertuju pada sebuah ruangan kaca khusus yang menampilkan display premium — ruang yang dipenuhi pesona klasik dan keunikan mobil-mobil Volkswagen pilihan.
Mari kita jelajahi dulu ruang display premium ini. Begitu melangkah masuk, kita langsung disambut oleh deretan kendaraan VW legendaris yang telah dikurasi dengan sangat selektif. Salah satunya adalah VW Fridolin atau Type 147 milik Terror Garage, kendaraan niaga kecil yang kini menjadi barang langka dan penuh daya tarik di kalangan kolektor.
Tak jauh dari situ, berjajar berbagai varian VW Beetle atau Type 1, mulai dari seri Split Window yang klasik dan ikonik, model Oval Window yang elegan, hingga model-model tahun muda yang menampilkan evolusi desain Beetle dari masa ke masa.
Koleksi display semakin menarik dengan kehadiran VW Type 2 Splitbus Flatbed Single Cabin dari Volkswise dan Double Cabin kendaraan multifungsi yang dulunya dipakai untuk angkut barang, kini menjadi pusat perhatian karena desainnya yang unik dan karismatik. Tak ketinggalan, dua model dari keluarga Karmann Ghia Type 1 juga turut tampil memukau: versi Low Light Kabriolet dan early model Karmann yang klasik dan bernuansa retro, serta Karmann TC yang cukup langka dan futuristik.
Semua kendaraan yang dipajang di sini tidak hanya merepresentasikan sejarah otomotif, tapi juga mencerminkan kecintaan mendalam terhadap budaya VW yang begitu kuat di komunitas ini. Ini baru permulaan dari rangkaian pengalaman seru di JVWF, dan kita masih punya pendopo yang akan kita eksplorasi sore nanti saat acara pembukaan berlangsung secara resmi. Tapi kita masih punya banyak waktu untuk keliling dahulu ke area-area lainnya.
Porsche World
Di area dalam venue, terdapat sebuah zona eksklusif yang dinamakan Porsche World, ruang yang didedikasikan untuk memperlihatkan warisan dan evolusi desain dari salah satu merek mobil sport paling ikonik di dunia. Area ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pecinta otomotif klasik dan penggemar Porsche sejati. Tidak sekadar menampilkan mobil, Porsche World menyuguhkan narasi visual tentang bagaimana Porsche mempertahankan DNA performa tinggi sambil terus berevolusi dalam desain dan teknologi.
Salah satu koleksi yang paling mencuri perhatian adalah Porsche 356 Outlaw. Model ini bukan versi standar, melainkan hasil modifikasi dari Porsche 356 klasik yang dirancang untuk mengekspresikan gaya pribadi pemiliknya. Gerakan Outlaw sendiri muncul dari para penggemar Porsche yang ingin mempertahankan tampilan klasik 356, namun dengan peningkatan performa dan sentuhan estetika unik. Mobil ini mencerminkan semangat kebebasan dan ekspresi individual yang sangat kuat di kalangan komunitas Porsche klasik.
Tidak jauh dari situ, dua model legendaris lainnya ikut dipamerkan: Porsche 911 Carrera Targa dan 911 T Coupe. Targa dikenal dengan desain atap terbukanya yang inovatif, solusi antara coupe dan convertible yang pertama kali diperkenalkan sebagai respon terhadap regulasi keselamatan di AS. Sementara itu, 911 T Coupe adalah salah satu varian ringan dari seri 911, yang awalnya dirancang sebagai versi entry-level namun kini menjadi incaran kolektor karena kelangkaannya. Banyak yang tidak tahu bahwa varian “T” (Touring) ini menawarkan pengalaman berkendara yang lebih murni dan responsif, menjadikannya favorit bagi pengendara yang mengutamakan sensasi mengemudi.
Emergency Lobby Area Display
Salah satu area yang cukup menarik perhatian di Java VW Festival 2025 adalah zona display ini, sebuah ruang pamer yang bisa dibilang terbentuk secara spontan namun justru menghadirkan nuansa yang otentik dan penuh kejutan. Tidak seperti area display utama yang dikurasi jauh-jauh hari, mobil-mobil di sini adalah beberapa VW yang benar-benar digunakan oleh para pemiliknya saat berangkat menuju lokasi acara. Dengan kata lain, ini adalah VW yang datang dengan tenaga sendiri, penuh semangat touring, dan kini dipajang dengan kebanggaan tersendiri.
Di antara jajaran kendaraan yang ditampilkan, ada VW Beetle milik Michael Lesmana dan Anto dari Terror Garage Bandung, yang dikenal aktif dalam dunia modifikasi VW dan Porsche. Kendaraan mereka bukan hanya tampil bergaya, tapi juga membawa cerita perjalanan dan karakter pemilik yang kuat. Dari Bandung ke venue acara, mobil ini meluncur di jalan raya bukan hanya sebagai alat transportasi, tapi sebagai perwujudan passion dan gaya hidup VW sejati.
Tidak ketinggalan, hadir pula sebuah Karmann Cabriolet dari Cirebon yang mencuri perhatian dengan desain klasiknya yang elegan. Bersama beberapa VW Beetle lainnya, area ini seakan menjadi galeri hidup dari semangat komunitas, menunjukkan bahwa VW bukan sekadar koleksi statis, tapi benar-benar bagian dari kehidupan sehari-hari para pemiliknya. Display ini tidak hanya memperlihatkan mobil, tetapi juga mempertemukan cerita, semangat perjalanan, dan koneksi antarpenggemar VW dari berbagai daerah.
Lorong Waktu JVWF
Lorong Waktu JVWF adalah ruang yang dirancang sebagai kapsul nostalgia, menghadirkan kilas balik lima edisi Jogjakarta Volkswagen Festival yang pernah digelar di kota budaya ini. Dari tahun 2013 hingga 2022, JVWF telah melalui perjalanan panjang yang bukan hanya soal mobil, tapi juga soal komunitas, karya, dan semangat kolektif para pecinta VW dari seluruh penjuru.
Di sepanjang lorong ini, pengunjung disuguhkan deretan panel visual dan infografis yang menampilkan desain, dokumentasi, hingga fakta-fakta menarik dari tiap edisi. Mulai dari atmosfer indoor JEC yang jadi saksi awal kemunculan JVWF, hingga konsep terbuka di pelataran Candi Prambanan pada masa pasca-pandemi, semua dihadirkan dalam narasi singkat yang mudah dicerna namun sarat makna.
Bukan sekadar area dokumentasi, Lorong Waktu JVWF menjadi titik hening di tengah riuhnya festival. Tempat di mana para pengunjung bisa berhenti sejenak, menyelami kembali perjalanan komunitas ini, dan merasakan bahwa setiap edisi JVWF bukan hanya peristiwa, tapi bab penting dalam sejarah budaya VW di Indonesia.
Untuk detail lengkap dari setiap edisi JVWF yang ditampilkan di Lorong Waktu, telah kami rangkum secara khusus pada halaman 2 artikel ini, sebagai dokumentasi sekaligus penghormatan bagi perjalanan panjang komunitas VW di Jogja dan Indonesia.
Contest Area
Bukan JVWF namanya jika tanpa kehadiran VW Kontes, agenda wajib yang selalu jadi pusat perhatian. Di sinilah ratusan mobil VW dari berbagai penjuru berkumpul, berbaris rapi, dan tampil maksimal dengan karakter masing-masing. Mulai dari model Beetle klasik, Kombi camper, Type 3, hingga Karmann Ghia, semuanya hadir dengan gaya yang tidak biasa.
Para pemilik VW tak datang dengan tangan kosong. Mereka menyiapkan mobil mereka berbulan-bulan sebelumnya, mengusung konsep yang matang: ada yang tampil total dengan restorasi orisinal, ada yang mengandalkan konsep slammed dan tak sedikit yang hadir dengan modifikasi ekstrim namun tetap berjiwa VW. Kreativitas dan kecintaan pada detail jadi nyawa dari setiap kendaraan yang dipajang.
Sambil menanti giliran dinilai oleh juri, suasana di area kontes terasa penuh energi. Sesama peserta saling mengapresiasi, pengunjung sibuk mengabadikan mobil favorit mereka, dan obrolan ringan antar penggemar VW pun mengalir di antara deretan kendaraan. Lebih dari sekadar kompetisi, kontes ini adalah panggung untuk merayakan semangat, dedikasi, dan ekspresi personal para penggiat VW dari seluruh Indonesia.
Scooter Art Space
Scooter Art Space hadir sebagai ruang ekspresi visual yang menyatukan dunia otomotif dengan jiwa seni jalanan. Di zona ini, para seniman, ilustrator, dan kreator lokal diberikan panggung untuk menuangkan ide dan gaya mereka ke dalam medium yang terinspirasi dari skuter klasik dan budaya modifikasi. Mulai dari karya lukis, instalasi 3D, hingga desain merchandise, semuanya menyuarakan semangat kebebasan, kebudayaan urban, dan identitas komunitas.
Area ini bukan hanya sekadar galeri diam, tapi ruang hidup yang terus berkembang selama event berlangsung. Pengunjung bisa melihat langsung proses kreatif para seniman, ikut berinteraksi, bahkan terlibat dalam aktivitas mural atau custom art. Semua dikemas dengan atmosfer yang santai, penuh warna, dan terasa sangat dekat dengan akar komunitas.
Scooter Art Space menjadi bukti bahwa skena roda dua tak melulu soal mesin dan performa, tapi juga tentang seni, gaya, dan cara melihat dunia. Ini adalah ruang di mana dua dunia, otomotif dan art culture, saling bertemu dan melebur dalam satu frekuensi yang sama.
Satu sudut area ini mencuri perhatian: barisan BMX Old School yang sangat langka dan autentik. Deretan sepeda ini bukan sekadar display, tapi bagian dari perjalanan sejarah gaya hidup anak jalanan era ’80-’90an yang kini kembali mendapat tempat di hati para kolektor dan penggemar vintage.
Setiap unit BMX yang ditampilkan membawa karakter unik, mulai dari frame model lama, handle tinggi, pelek spoke jadul, hingga stiker-stiker original yang jadi identitas masa lampau. Sepeda-sepeda ini disusun dengan apik, berdampingan dengan artwork bertema skena urban dan scooter klasik, menciptakan atmosfer yang membaur antara seni, nostalgia, dan passion kolektif.
Kehadiran BMX Old School di Scooter Art Space menjadi simbol bagaimana JVWF merangkul lebih dari sekadar dunia VW. Ini adalah perayaan gaya hidup lintas generasi, tempat di mana para penikmat roda dua, pecinta seni jalanan, dan kolektor barang klasik bisa saling berbagi ruang, cerita, dan inspirasi.
Di Balik Ramainya JVWF: Tenant & Peserta yang Jadi Nyawa Acara
Salah satu kekuatan utama dari JVWF selalu terletak pada ragam tenant dan peserta yang terlibat setiap tahunnya. Di luar barisan mobil dan motor, area festival dipenuhi oleh tenant-tenant pilihan yang menghadirkan berbagai produk dan pengalaman, mulai dari onderdil VW langka, apparel bertema otomotif, artwork, diecast, hingga kuliner khas jalanan. Semua ditata dengan vibe yang santai, khas pasar komunitas, tapi tetap rapi dan tertata secara tematik.
Tenant-tenant ini datang bukan hanya sebagai penjual, tapi juga bagian dari ekosistem komunitas. Banyak di antaranya merupakan bengkel, brand lokal, atau kolektif kreatif yang sudah lama menjadi bagian dari kultur VW di Indonesia. Mereka hadir untuk berbagi karya, membuka ruang interaksi, dan memperkuat koneksi antar penggemar roda empat klasik.
Di sisi peserta, JVWF juga jadi titik temu bagi klub-klub VW dari seluruh Indonesia, bahkan mancanegara. Dari klub besar hingga perorangan (privatir), semuanya mendapat ruang yang sama untuk tampil dan berkumpul. Tak hanya menunjukkan mobil mereka, para peserta juga berbagi cerita, pengalaman touring, hingga inspirasi modifikasi yang memicu semangat dan ide baru. Inilah atmosfer JVWF: inklusif, cair, dan selalu hangat, tempat di mana setiap orang, dari pecinta mobil klasik hingga pejalan santai, merasa pulang.
#BULLILOVEStories: Perjalanan Tanpa Batas, Cerita Tanpa Akhir
Sebagai bagian dari kampanye global #BULLILOVEstories, kehadiran Volkswagen Indonesia di JVWF 2025 menjadi lebih dari sekadar partisipasi, ini adalah pernyataan bahwa Indonesia kini resmi masuk dalam peta cerita dunia para pecinta Bulli. Salah satu momen istimewa adalah hadirnya Christian Schlüter, juru bicara Volkswagen Commercial Vehicles Old-timer & Campervans sekaligus pencetus kampanye #BULLILOVEstories, yang hadir langsung dari Jerman membawa misi perjalanan penuh makna menggunakan ID. BUZZ, mobil listrik penerus spirit Bulli klasik.
Christian telah menempuh perjalanan epik sejauh lebih dari 125.000 km melintasi 41 negara, dan Yogyakarta menjadi salah satu titik penting dalam ekspedisinya. Dari Jakarta menuju JVWF 2025, ID. BUZZ meluncur senyap dan efisien, membuktikan bahwa mobil listrik ini bukan sekadar kendaraan urban, tapi juga sahabat touring yang siap menjelajah jarak jauh dengan kenyamanan dan karakter.
Selama perjalanan darat dari Jakarta menuju Yogyakarta, ID. BUZZ tampil bukan sekadar sebagai kendaraan listrik modern, tapi juga sebagai teman perjalanan yang menyenangkan dan fungsional. Perjalanan panjang melintasi jalur utama Pulau Jawa ini membuktikan bahwa mobil listrik bisa menghadirkan lebih dari sekadar teknologi — ia membawa kenyamanan, ketenangan, dan pengalaman berkendara yang menyatu dengan alam dan budaya lokal.
“Perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta bersama ID. BUZZ menjadi pengalaman yang sangat berkesan: nyaman, efisien, dan membuktikan bahwa mobil listrik ini memang dirancang untuk perjalanan panjang yang menyenangkan,” ujar Christian. “Lebih dari itu, perjalanan ini meninggalkan memori yang mendalam bagi saya, terutama karena sambutan hangat dari komunitas Volkswagen di Indonesia. JVWF 2025 memperlihatkan bahwa Bulli bukan sekadar kendaraan, tetapi bagian dari hidup yang dirayakan bersama.”
Photo courtesy VW Indonesia – Garuda mataram
Kehadiran Christian dan ID. BUZZ di JVWF bukan hanya menyambungkan cerita antar negara, tapi juga mempertegas bahwa semangat Bulli tetap hidup, baik dalam bentuk mesin boxer berpendingin udara maupun motor elektrik yang senyap. Di balik teknologi dan desain, esensi dari Bulli tetap sama: membawa orang-orang ke tempat-tempat baru, menciptakan cerita, dan menyatukan komunitas lintas batas.
Media Gathering
Salah satu highlight JVWF 2025 yang tak boleh dilewatkan adalah sesi Media Gathering ID. BUZZ, yang diadakan secara eksklusif untuk awak media, tamu undangan, serta perwakilan komunitas. Di tengah kemeriahan festival, momen ini menjadi ruang yang lebih intim untuk mendalami filosofi dan perjalanan ID. BUZZ, langsung dari Christian Schlüter — juru bicara Volkswagen Commercial Vehicles dan penggagas kampanye global #BULLILOVEStories.
Media gathering VW ID. BUZZ di JVWF 2025
Media Gathering berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna. Para peserta tak hanya diberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat ID. BUZZ secara teknis dan fungsional, tapi juga diajak menyelami perjalanan epik yang telah menempuh 125.000 km melintasi 41 negara. Sesi ini menjadi forum berbagi, di mana teknologi masa depan dan semangat komunitas klasik saling berjumpa dan saling menghargai.
Test Drive ID. BUZZ
Pada kesempatan ini kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan test drive ID. BUZZ. Sejak awal, kesan lapang langsung terasa. Dengan legroom dan headroom yang luas hingga ke baris ketiga, kabin ID. BUZZ menjadi ruang bergerak yang nyaman bagi seluruh penumpang.
Kapasitas bagasi yang mencapai 2.469 liter membuat perjalanan jarak jauh terasa praktis tanpa kompromi. Perlengkapan kamera, logistik perjalanan, hingga barang pribadi dapat tersusun rapi tanpa perlu memilih-milih. Salah satu fitur yang paling menarik perhatian adalah Electrochromic Panoramic Smart Glass Roof, yang memungkinkan penumpang menikmati pencahayaan alami khas jalanan Jawa, atau meredupkannya untuk nuansa yang lebih teduh. Kabin terasa lapang, terang, dan benar-benar mengangkat kualitas perjalanan ke level baru.
Tidak berhenti di desain interior, ID. BUZZ juga memanjakan penumpang lewat fitur hiburan dan kenyamanan personal. Floating Head-Up Display memudahkan akses informasi tanpa mengganggu fokus berkendara, sementara sistem konektivitas Apple CarPlay dan Android Auto nirkabel memudahkan integrasi perangkat pribadi. Semua itu dibalut kualitas audio premium dari Harman Kardon dengan 12+1 speaker, menciptakan suasana perjalanan yang tidak hanya nyaman, tapi juga menyenangkan.
Seluruh kursi di ID. BUZZ telah mengadopsi teknologi Ergo-Comfort, dengan kursi depan yang dilengkapi penghangat, memory seat, dan fitur pijat, menjadikan setiap kilometer tak terasa melelahkan. Untuk perjalanan panjang seperti ini, perhatian terhadap ergonomi bukan lagi sekadar tambahan, tapi sebuah keharusan, dan ID. BUZZ mengeksekusinya dengan sangat baik.
Dari sisi keamanan, ID. BUZZ telah memperoleh rating 5 bintang dari EURO NCAP, yang menunjukkan bahwa desainnya tak hanya futuristik tapi juga aman secara menyeluruh. Fitur-fitur seperti Adaptive Cruise Control, Lane Assist, dan Drive Mode Selection (Eco, Comfort, Sport, hingga Individual) membuat pengemudi leluasa menyesuaikan kendaraan dengan karakter jalanan Indonesia. Sementara itu, sistem Regenerative Braking memastikan efisiensi energi tetap terjaga bahkan di medan menantang sekalipun. Semua itu dilengkapi dengan visibilitas luas dari kabin depan, menjadikan ID. BUZZ bukan hanya mobil untuk masa depan, tapi juga sahabat yang tangguh untuk hari ini.
JVWF Opening Ceremony & Gala Dinner
Opening Ceremony JVWF 2025 dilaksanakan disore hari pun menjadi momen simbolis yang membuka secara resmi gelaran akbar komunitas VW tahunan ini. Acara dimulai dengan sambutan dari Ketua Umum VW Club Yogyakarta (VCY), Rahardyan Nugroho Ady, yang menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada seluruh peserta, komunitas, serta pihak pendukung yang telah setia menjaga semangat kebersamaan dalam dunia aircooled.
Ketua Umun Volkswagen Club Yogyakarta – Rahardyan Nugroho Ady
Rangkaian pembukaan ini diselingi dengan pertunjukan tarian tradisional khas Nusantara, menghadirkan sentuhan seni budaya yang memperkuat identitas lokal dari festival berskala internasional ini. Perpaduan antara semangat otomotif dan budaya lokal membuat JVWF 2025 bukan hanya ajang pamer mobil, tapi perayaan kebersamaan yang menjunjung tinggi akar tradisi dan nilai kekeluargaan.
Dilanjutkan oleh sambutan hangat dari Ketua Umum Volkswagen Indonesia Association (VIA), Komjen. Pol. (Purn.) Nanan Soekarna, yang menekankan pentingnya JVWF sebagai ruang silaturahmi nasional dan ajang apresiasi budaya modifikasi serta orisinalitas khas dunia VW. Kehadiran Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM)Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D, juga menjadi bukti nyata bahwa JVWF bukan sekadar acara komunitas, tapi bagian dari dinamika budaya dan edukasi di Yogyakarta.
Ketua Umum VOlkswagen Indonesia Association – Komjen. Pol. (Purn.) Nanan Soekarna
Rektor UGM – Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D
Setelah melakukan opening ceremony, acara berlanjut ke Gala Dinner yang berlangsung hangat dan penuh rasa kebersamaan. Diiringi suguhan musik akustik dan suasana khas Yogyakarta, gala dinner menjadi ajang silaturahmi lintas generasi, dari kolektor VW klasik, kreator muda, hingga perwakilan internasional. Di meja-meja makan, diskusi hangat soal mobil, perjalanan, dan mimpi masa depan pun mengalir tanpa batas. Inilah JVWF, di mana cerita dibangun bukan hanya dari mesin dan desain, tapi dari pertemuan manusia yang memiliki kecintaan yang sama.
Pada saat gala dinner pun, Andrew Nasuri, Director Indomobil Group memberikan sambutan, “Partisipasi kami di JVWF 2025 merupakan bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang Volkswagen, sekaligus komitmen kami untuk menjaga warisan tersebut tetap hidup dan relevan…”.
Partisipasi Volkswagen Indonesia di JVWF 2025 tidak hanya menghadirkan teknologi kendaraan terbaru, tetapi juga membuka babak baru kolaborasi lintas sektor. Tahun ini, VW resmi mengumumkan kemitraan strategis dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (EKRAF) sebagai upaya mendorong sinergi antara industri otomotif dan sektor kreatif nasional. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata bagaimana inovasi mobilitas dapat berjalan seiring dengan ekspresi budaya dan karya anak bangsa.
Inspektorat Kementrian EKRAF RI – Brigjen. Pol. Achmadi, S.I.K, M.H
Sebagai bentuk konkret dari kerja sama tersebut, Volkswagen menggandeng dua IP lokal berbasis karakter dan street culture, yaitu Tabe Thay dan Tenka Street, untuk menciptakan karya seni langsung di atas media yang tidak biasa: ID. BUZZ. Proses live painting ini bukan hanya atraksi visual, tapi bentuk penghargaan terhadap potensi seniman lokal dalam menghadirkan warna dan cerita pada kendaraan masa depan. Untuk pertama kalinya, ID. BUZZ menjadi kanvas berjalan yang menyuarakan gaya, identitas, dan imajinasi khas generasi kreatif Indonesia.
Proyek ini akan menjadi bagian dari rangkaian perjalanan kreatif ID. BUZZ, yang selanjutnya ditampilkan di GIIAS 2025 yang saat ini sedang berlangsung sebagai simbol kolaborasi antarindustri. Lewat aksi ini, Volkswagen menunjukkan bahwa mobil bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga ruang ekspresi, kolaborasi lintas disiplin, dan refleksi budaya zaman.
Next Episode of JVWF 2025
Penasaran dengan keseruan hari kedua JVWF 2025? Masih banyak cerita, momen langka, dan kejutan menarik yang belum terungkap. Nantikan ulasan lengkapnya di artikel selanjutnya, stay tuned dan jangan lewatkan detilnya!
Saya menyukai VW sejak kecil, hal itu dipengaruhi oleh ayah saya. Mulai menulis dan fotografi dimulai pada akhir 90-an.
Awalnya senang memfoto VW dan posting di halaman pribadi saya. Hingga akhirnya Paul Cave mengajak saya untuk menjadi kontributor tentang VW & Porsche di Asia khususnya di Indonesia sejak tahun 2010 untuk majalah "Aircooled Classic VW & Porsche" (AUS), juga majalah VWKita (INA), Aircooledway (INA) hingga berkontribusi untuk Airmighty (NED).
Dengan pengalaman tersebut kemudian saya mulai mendirikan media online sendiri di Aircooled Syndicate.